androidvodic.com

Analis Militer Israel: Bentrokan Segera Pecah Antara Netanyahu dan Para Komandan Militer IDF - News

Analis Militer Israel: Bentrokan Segera Terjadi Antara Netanyahu dan Para Komandan Militer IDF

News - Seorang analis militer Israel, Amos Harel, Selasa (18/6/2024) menyatakan akan terjadi konflik besar antara komandan tentara Israel (IDF) dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sebagai akibat dari berlanjutnya perang di Jalur Gaza yang sudah berlangsung selama sembilan bulan.

Hal ini diungkapkan dalam artikel analitis di surat kabar Ibrani "Haaretz", oleh Amos Harel, yang bertepatan dengan berlanjutnya agresi Israel di Jalur Gaza.

Baca juga: Pakar Militer: Jeda Pertempuran Indikasikan Jenderal Israel Mulai Mbalelo, Siap-siap Resign Massal

Kesegeraan konflik besar ini seiring pengakuan Tel Aviv atas terjadinya kerugian dan kegagalan mencapai tujuan perang Israel.

"Pasukan Israel yang kelelahan memerlukan waktu istirahat, tetapi Netanyahu memaksa tentara Israel untuk terus berperang di Gaza," kata Harel.

Baca juga: Pakar Militer: IDF Mundur dari Rafah Karena Divisi Lapis Baja Jebol, Israel Membual Gempur Hizbullah

Foto saat tank Mesir dikerahkan di dekat penyeberangan Rafah dengan Gaza, pada 31 Oktober 2023 lalu
Foto saat tank Mesir dikerahkan di dekat penyeberangan Rafah dengan Gaza, pada 31 Oktober 2023 lalu (AFP)

Akhiri Invasi di Rafah

Harel menjelaskan, para pemimpin militer Israel ingin mengakhiri operasi di Rafah (Gaza selatan), untuk memberikan waktu istirahat bagi pasukan dan bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi di utara (Lebanon).

"Tetapi Perdana Menteri masih bersikeras (melanjutkan perang) dan kedua belah pihak kemungkinan besar akan bentrok dalam waktu dekat," kata dia.

Harel menekankan bahwa "hubungan yang sangat tegang antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pimpinan tentara Israel serta Dinas Keamanan Umum (Shin Bet) akan segera menghadapi hambatan lain." 

Atas situasi itu dia berharap menteri Pertahanan Yoav Galant sekali lagi mengambil posisi profesional sejalan dengan posisi tentara, dengan fokus pada tujuan perang. 

“Gallant dan para jenderal berusaha untuk mengakhiri operasi di Rafah lebih awal, beralih ke pendekatan yang melibatkan serangan terbatas di Jalur Gaza, dan membuat tentara fokus pada persiapan kemungkinan perang habis-habisan dengan Hizbullah di utara," katanya.

Baca juga: Skenario Gencatan Senjata Gaza Gagal, Hizbullah Punya 1 Juta Rudal, Israel Menyerang 1 September

Kepala Staf Umum Tentara Israel (IDF) Herzi Halevi (tengah) saat pertemuan dengan para perwiranya di Khan Yunis pada 23 Desember 2023. Halevi belakangan diminta mundur oleh para bawahannya di Staf Umum IDF karena dianggap gagal mencapai target perang setelah delapan bulan invasi ke Gaza.
Kepala Staf Umum Tentara Israel (IDF) Herzi Halevi (tengah) saat pertemuan dengan para perwiranya di Khan Yunis pada 23 Desember 2023. Halevi belakangan diminta mundur oleh para bawahannya di Staf Umum IDF karena dianggap gagal mencapai target perang setelah delapan bulan invasi ke Gaza. (khaberni/HO)

Analis militer tersebut menilai kalau Netanyahu, menurut semua indikasi, enggan IDF meninggalkan Gaza, dan tidak setuju dengan urgensi dan pentingnya hal yang diutarakan oleh Gallant dan Kepala Staf Angkatan Darat Israel Herzi Halevy untuk mencapai kesepakatan penyanderaan dengan Hamas."

"Diperkirakan akan terjadi konfrontasi badai, dan perselisihan antara Perdana Menteri, Gallant, Halevy, dan Direktur Shin Bet Ronen Bar berkaitan dengan jenis pencapaian sejauh ini, dan langkah-langkah yang diperlukan tentara Israel pada saat ini," katanya.

“Pada rapat kabinet pada hari Minggu, Netanyahu mengambil sikap garis keras, dan dalam wawancara radio di FM 103, ajudan dekatnya, Brigadir Jenderal (res) Evi Eitam, mengatakan bahwa perang akan berlangsung selama tiga tahun: satu tahun di Gaza, satu tahun di Lebanon, dan akhirnya... Tahun ketiga untuk membentuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Iran.”

(oln/khbrn/*)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat