androidvodic.com

GMF 2024 di Bonn: Apa Reaksi Media Terhadap Disinformasi dan Perubahan Iklim? - News

Laporan terbaru dari berbagai lembaga, termasuk Forum Ekonomi Dunia, menyebutkan bahwa dunia saat ini menghadapi dua tantangan besar yang sangat mendesak bagi umat manusia.

Pertama adalah disinformasi, di mana banyak gambar-gambar palsu dan informasi yang sengaja dibuat tidak akurat, atau sering disebut sebagai berita palsu.

Disinformasi ini disebarkan untuk merusak demokrasi dan memperdalam perpecahan sosial. Sementara yang kedua adalah perubahan iklim. Kerusakan lingkungan pada akhirnya akan membuat beberapa bagian dari planet ini tidak dapat dihuni.

Sebagian besar menganggap isu pertama sebagai masalah jangka pendek, sedangkan isu kedua adalah masalah jangka panjang.

Apa yang terjadi ketika kedua isu itu saling bertabrakan?

Dalam beberapa sesi DW Global Media Forum (GMF) tahunan yang diselenggarakan pekan ini di kota Bonn, Jerman, membahas kedua isu tersebut.

Disinformasi mengenai isu perubahan iklim itu adalah masalah besar, kata Isabelle Schläpfer, manajer riset Internews, organisasi pengembangan media yang didanai oleh Amerika Serikat (AS).

Pada awal Juni, Internews menerbitkan sebuah laporan mengenai jurnalisme dan perubahan iklim, berjudul "Covering the Planet”, yang berisikan survei dari kurang lebih 700 jurnalis.

"Lebih dari 45% jurnalis mengatakan bahwa [disinformasi] telah meningkat, sebagian besar disebabkan oleh media sosial," kata Schläpfer kepada DW, seraya menambahkan, "hal ini mendistorsi pembicaraan tentang perubahan iklim. Ini mengalihkan perhatian dari hal-hal yang penting dan arti isu ini bagi kehidupan orang biasa."

Secara luas, para ahli sepakat perubahan iklim ini harus diatasi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Tetapi untuk menerapkannya secara efektif, warga negara sebagai pemilih harus percaya pada kebijakan itu.

Itulah mengapa jika tingkat disinformasi terus meningkat, hal ini dapat berkontribusi terhadap penurunan kepercayaan warga negara kepada pihak pemerintah, sehingga nantinya dapat menjadi masalah.

'Penyangkalan baru' pada isu perubahan iklim

Terkadang, disinformasi mengenai isu perubahan iklim ini dapat digunakan dalam kampanye politik, atau argumen yang dibuat oleh kelompok kepentingan tertentu, seperti kelompok petani yang menentang keras peraturan lingkungan Uni Eropa (UE) yang baru.

Pihak lain mungkin menggunakan disinformasi untuk menyangkal bahwa perubahan iklim sedang benar-benar terjadi. Bahkan ada pula yang bersikeras bahwa kekeringan atau peristiwa cuaca ekstrem itu hanyalah bagian dari siklus normal musiman Bumi.

Seperti yang dilaporkan oleh para peneliti di lembaga nirlaba Inggris, Center for Countering Digital Hate (CCDH) pada Januari lalu, ternyata ada juga bentuk yang mereka sebut "penyangkalan baru” terhadap isu perubahan iklim yang muncul dan perlu diwaspadai oleh para jurnalis. Peneliti lain di Sekolah Ekonomi menyebut itu sebagai "penundaan" perubahan iklim.

"'Penyangkalan baru' ini kini mencapai 70% dari semua klaim penyangkalan iklim yang pernah dibuat di YouTube, meningkat dari 35% enam tahun yang lalu," tulis para peneliti CCDH. Ini adalah "pergeseran substansial dari penyangkalan terhadap isu perubahan iklim antropogenik, yang melemahkan kepercayaan terhadap solusi dan ilmu pengetahuan itu sendiri... [dan] berusaha untuk melemahkan solusi dan menunda tindakan politik."

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat