androidvodic.com

Olimpiade Paris Berpotensi Sarat Gelombang Panas - News

Kesimpulan itu dimuat dalam sebuah laporan berjudul "Cincin Api" oleh lembaga penelitian Climate Central, Universitas of Portsmouth, Inggris, dan sebelas orang atlet profesional, yang dirilis Rabu (18/6). Laporan tersebut mewanti-wanti terhadap "suhu panas yang intensif, selama Olimpiade Paris di bulan Juli-Agusus, dapat memicu kolapsnya atlet dan dalam skenario terburuk bahkan meninggal dunia selama pertandingan."

Studi ini mengonfirmasikan seruan dari para pelaku olahraga untuk menyesuaikan jadwal dan waktu pertandingan demi memperhitungkan risiko kesehatan di bawah suhu yang tinggi. Saat ini, gelombang panas juga sedang melanda wilayah timur laut Amerika Serikat dengan suhu setinggi 40 derajat Celcius, dalam apa yang disebut sebagai sebuah kelaziman baru bagi negara di belahan Bumi Utara.

"Rings of Fire" mendesak penyelenggara kompetisi yang biasanya diadakan pada puncak musim panas, seperti Olimpiade atau Piala Dunia sepak bola, untuk mengkaji ulang penjadwalan.

Penyelenggara juga diminta menyusun strategi rehidrasi dan pendinginan yang lebih baik bagi para atlet dan penggemar, demi menghindari risiko sengatan panas. Olimpiade Paris, yang berlangsung pada 26 Juli-11 Agustus, diselenggarakan setelah serangkaian gelombang panas yang mencapai rekor tertinggi di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.

Musim panas ekstrem

Lebih dari 5.000 orang meninggal dunia tahun lalu akibat sengatan panas, ketika suhu udara melampaui 40 derajat Celcius, menurut data Kementerian Kesehatan. Sebuah riset di jurnal ilmiah Lancet Planet Health pada Mei lalu menyimpulkan bahwa Paris mencatatkan kematian akibat panas terbanyak dari 854 kota di Eropa, terutama akibat minimnya ruang terbuka hijau dan kepadatan penduduk yang tinggi.

Saat ini, Prancis justru dinaungi curah hujan yang tinggi dan menimbulkan arus kencang serta pencemaran di Sungai Seine. Sungai yang membelah Paris itu diniatkan sebagai lokasi pertandingan untuk cabang renang triathlon dan maraton, selain sebagai lokasi parade kapal pada upacara pembukaan.

Komite penyelenggara mengaku telah merencanakan kelonggaran waktu dalam penjadwalan turnamen, yang memungkinkan perubahan jadwal untuk menghindari cuaca buruk.

Namun begitu, sebagian besar pengunjung akan menonton Olympiade di tribun sementara yang tidak beratap, sementara perkampungan atlet dibangun tanpa penyejuk ruangan, AC, untuk mengurangi jejak emisi gas rumah kaca.

"Gangguan tidur akibat cuaca panas disebut-sebut sebagai kekhawatiran utama para atlet menjelang Olimpiade 2024, terutama mengingat kurangnya AC di Perkampungan Olimpiade,” kata laporan itu.

Para atlet telah ditawari kemungkinan untuk memasang unit AC portabel di akomodasi masing-masing, yang disambut oleh sebagian besar peserta.

Krisis iklim berimbas pada olahraga

Salah seorang atlet Olympiade yang terlibat dalam riset "Cincin Api", Prgnya Mohan asal India, mengaku harus meninggalkan kampung halamannya karena suhu panas yang tinggi. India baru-baru ini mencatatkan gelombang panas terpanjang dalam sejarah pencatatan cuaca.

"Dengan perubahan iklim, gelombang panas yang kita alami meningkat pesat,” kata Mohan kepada wartawan. "Saya tidak bisa berlatih di negara saya. Itulah salah satu alasan saya pindah ke Inggris."

Atlet lain mengabarkan harus menyesuaikan jadwal latihan untuk menghindari panas, atau berlatih di ruang khusus untuk mempercepat aklimatisasi terhadap suhu tinggi.

"Saya pernah mengalami kondisi, di mana saya benar-benar berusaha bertahan sampai babak selanjutnya," kata Jamie Farndale, atlet rugby asal Inggris. "Ada rekan setim saya yang terkena sengatan panas dan harus beristirahat di hotel selama beberapa hari."

Olimpiade Musim Panas 2023 di Tokyo dianggap sebagai Olimpiade terpanas dalam sejarah, dengan suhu yang konstan berkisar di atas 30C dan kelembapan di atas 80 persen.

Meski ragam tindakan pencegahan seperti penyemprotan kabut dingin, banyak atlet mengalami kesulitan saat tampil di Tokyo, termasuk pemain tenis Rusia Daniil Medvedev yang mengaku merasa hampir sekarat.

Presiden Atletik Dunia Sebastian Coe, yang menulis kata pengantar untuk laporan "Cincin Api”, memperingatkan bahwa "norma baru” memaksa para atlet untuk bertanding dalam "kondisi iklim yang sangat keras”.

rzn/hp (afp,rtr)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat