androidvodic.com

Badan Informasi Geospasial Bakukan Nama Rupabumi dalam Gazeter Republik Indonesia - News

News, JAKARTA - Badan Informasi Geospasial (BIG) menerbitkan Gazeter Republik Indonesia, berisi daftar nama-nama rupabumi yang telah dibakukan.

Kepala BIG Muh Aris Marfai mengakui istilah Gazeter belum familiar di masyarakat.

Padahal fungsinya sangat vital dalam proses pembangunan nasional.

“Memang tidak semua paham Gazeter, terutama masyarakat umum. Gazeter itu adalah direktori nama geografis atau nama rupabumi, dimana kita perlu menetapkan nama-nama itu agar memberikan kemudahan dalam pembangunan dan berbagai keperluan lainnya,” kata Aris dalam Talkshow MNC Trijaya, “Gazeter Republik Indonesia sebagai Referensi Dokumen Pemerintahan” di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Senin (13/12/2021).

Menurut Aris, data yang dihimpun dalam Gazeter merupakan hasil kolaborasi dari kementerian, lembaga, stakeholder, akademisi, para pakar, dan pemerintahan daerah.

Di dalamnya mencakup nama lokasi, nama bangunan, nama jalan, infrastruktur, dan sebagainya.

“Intinya adalah nama-nama yang muncul ketika peta rupabumi kita buat. Sehingga kita lihat memang bukunya tebal-tebal karena ada sekian puluh ribu, bahkan juta penamaan disitu. Jadi kita tidak perlu bingung lagi, ini menjadi semacam kamus,” jelasnya.

“Misalnya nama Rawa Buaya, Rawa Bokor, Kebun Sirih, Kebun Jeruk, nama-nama itu merefleksikan sesuatu, baik proses, kejadian maupun pengetahuan lain yang dihimpun menjadi satu dalam Gazeter,” sambung Aris.

Baca juga: Badan Informasi Geospasial Diharapkan Mampu Mendorong Kepastian Investasi dan Pemerataan Ekonomi

Penamaan rupabumi, kata Aris, sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, tapi belum berupa direktori khusus.

“Nah sekarang, Gazeter sudah bisa diakses melalui www.sinar.big.go.id,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar BIG M. Arief Syafi'i menambahkan, Gazeter sangat penting, karena rupabumi yang tak dinamai hanya akan menjadi peta buta.

"Nama yang sudah masuk di Gazeter itu sudah resmi dan dimasukkan ke peta. Kalau tanpa nama jadi peta buta, sehingga kita tidak bisa mengidentifikasi ini wilayah apa, gedung apa, dan segala macam," katanya.

“Jadi Gazeter ini sama dengan akta lahir kita, intinya untuk mengidentifikasi nama dari sebuah wilayah atau tempat,” imbuhnya.

Pengidentifikasian nama inilah, yang kemudian menjadi referensi dokumen pemerintahan, termasuk di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat